Tamu Tengah Malam
Namaku Riri Ralinta. Aku adalah mahasiswi Fakultas Hukum di Universitas
Indonesia. Aku hanya tinggal berdua dengan adikku, Bian. Ini karena kedua orang
tua kami yang sudah meninggal. Sekitar 1 bulan yang lalu kami pindah dan
tinggal di rumah peninggalan orang tua kami. Belakangan ini rasa sakit, gelisah, dan ketakutan yang terjadi begitu
mengguncang diriku. Semua bermula pada malam itu.
Malam itu, ya…
malam yang sangat dingin dan gelap. Aku terbangun dari tidurku karena tenggorokanku
yang terasa gersang. Akhirnya aku memutuskan bangkit dari ranjang untuk sekedar
membasahi tenggorokanku. Dalam kondisi yang masih setengah sadar, aku berjalan
malas menuju pintu kamar. Baru kubuka sedikit pintu itu dan bersiap
melangkahkan kaki keluar, aku
melihat sekilas ada sesosok bayangan hitam yang berlari dengan sangat cepat.
Aku terkejut dan terpaku pada pijakanku, tetapi aku masih tidak yakin karena
kondisiku yang belum 100% sadar.
Pagi harinya aku
berangkat kuliah seperti biasa. Namun, aku tidak telalu fokus karena kejadian
semalam.
“Ri, lagi pikirin apa? Kok
kayaknya serius banget?” tanya
seorang sahabatku,
Tya yang tiba-tiba sudah duduk di sebelahku.
“Ah aku bukan apa-apa, kok. Memang kelihatan
serius, ya?” jawabku
pada Tya.
“Iya. Kau sedang
ribut dengan adikmu? Ah.. tapi rasanya nggak mungkin. Kalian kan selalu
lengket, sampai-sampai dikira orang pacaran.”
Ujarnya dalam sekali napas.
“Aduh duh…
mulutmu itu sekali bicara sudah seperti kereta, ya? Cepat banget ngomongnya.
Belum dijawab saja, sudah jawab sendiri.” Kataku sambil mengetuk pelan mulutnya
dengan pulpen. Sedang lawan bicaraku hanya tersenyum tanpa dosa.
Aku tidak ingin
menceritakan kejadian semalam kepada siapapun. Karena aku merasa kejadian itu
masih belum bisa dibenarkan. Semalam aku masih dalam kondisi mengantuk, jadi
bisa saja itu adalah halusinasiku.
Pada pukul
17.00, aku beranjak untuk pulang dari kampus karena sudah tidak ada jadwal mata
kuliahku. Rumah masih terkunci. Itu berarti Bian belum pulang. Kemana ya anak
itu? Namun, aku merasa tubuhku sangat rindu dengan empuknya sofa di ruang tamu
yang membuatku langsung merebahkan diri di atasnya.
Merenung dan
menatap ke langit-langit ruangan adalah satu-satunya yang kulakukan saat ini.
Aku benar-benar tidak ingin memusingkan kejadian itu lagi. Aku juga tidak ingin
membicarakannya pada Bian. Tapi apakah orang itu akan datang kembali lagi malam
ini? Walaupun enggan untuk memikirkannya, namun pertanyaan itu terus muncul
dalam benakku.
“Kak? Tumben
sudah pulang. Ada
makanan, nggak? Laper, nih.” Bian pulang
dan menyadari aku sudah berada di rumah. Dia berbicara padaku. Namun, aku masih
senantiasa bergelut dengan pikiranku sendiri. Hingga akhirnya dia
menghampiriku.
“Kak? Kak Riri!
Kau ini kenapa, sih?”
tanyanya khawatir sambil
menggoyang-goyangkan bahuku. Dan akhirnya aku tersadar akan kehadirannya.
“Oh… Bian? Kau
sudah pulang rupanya. Ada apa?” Tanyaku polos.
“Kau ini yang
kenapa? Ditanya dari tadi kok diam saja.
Jadi khawatir, tau nggak?” ungkapnya penuh dengan
nada kekhawatiran.
“Aku nggak apa-apa. Cuma lagi pikirin
tugas kuliahku saja.” Jelasku dengan sedikit kebohongan.
“Cihh… dasar!
Baru juga semester satu,
tugas sudah numpuk.” Cibirnya
sambil mengacak rambutku.
“Kau! Aish..
rambutku jadi berantakan,
tau! Aku nggak
akan memberimu makan malam. Lihat saja!” ancamku
pada Bian. Sedang yang diancam meledek seperti anak kecil dan langsung berlari
masuk ke dalam kamar.
Malam kedua,
malam ini aku masih tidak dapat tertidur. Padahal jam sudah menunjuk pukul
23.30. Saat itu aku tidak tau apa yang terjadi. Karena pada pagi harinya, aku
menemukan diriku tertidur dalam posisi duduk di meja makan. Aku tersentak saat
dibangunkan oleh Bian.
“Kak. Kok tidur di sini, sih? Kenapa nggak di kamar saja?
Memangnya nggak
dingin?” rombongan
pertanyaan yang keluar dari mulut Bian yang sukses membuatku bingung hendak
menjawab apa. Dan tanpa membuang waktu, aku yang masih dalam keadaan terkejut
ini langsung melejit masuk ke dalam kamar meninggalkan Bian yang masih berada
di ruang makan.Aku hanya membiarkan Bian menatap bingung punggungku yang terus
saja melangkah dan masuk ke kamar.
Ini benar-benar
aneh. Aku tidak mengerti kenapa aku bisa-bisanya tidur di meja makan. Padahal
aku sama sekali tidak merasa bahwa aku terbangun dan berjalan keluar kamar.
Orang itu! Apakah orang itu datang lagi dan masuk ke kamarku? Apakah dia yang
membawaku ke ruang makan? Tapi bagaimana bisa aku tidak menyadari bahwa aku
dipindahkan? Apa orang itu pencuri? Tapi tidak ada satupun yang dia curi.
Apakah hantu? Ah mana mungkin ada hantu. Iya kan? Aku tidak percaya hal seperti
itu. Apa jangan-jangan dia seorang psikopat? Ya ya ya, itu bisa saja dan itu
mengerikan. Tapi jika benar psikopat, apa mau sebenarnya, sih? Membuat orang
ketakutan saja. Jika aku terus-terusan memikirkan hal ini, pasti aku akan
benar-benar gila.
Karena hari ini
adalah hari libur, aku mengajak Bian untuk jalan-jalan. Aku tidak ingin
membuatnya terus-terusan mecurigaiku karena sikap anehku tadi pagi.
Lelah menyusuri
kota hampir setengah hari, kami memutuskan untuk beristirahat sambil menikmati
minuman di cafe. Sembari menunggu pesanan kami datang, kami banyak berbincang dan
akhirnya Bian menanyakan hal-hal yang sepertinya dia curigai dari sikapku.
“Aneh.” Katanya
lirih, namun masih bisa tertangkap pendengaranku.
“Apa dek?” tanyaku menelisik.
“Ah.. aku senang
saja. Setelah sekian lama kau sibuk dengan tugas kuliahmu, akhirnya kau bisa
meluangkan diri untuk jalan-jalan denganku.” Jelasnya yang ku yakin bahwa itu
bohong. Aku tidak tau apa yang sedang di pikirkannya. Tapi, aku yakin bukan itu
jawabannya.
“Iya juga, ya? Memang sudah lama kita
nggak jalan-jalan bareng.” Balasku singkat.
“Oh iya, kak.
Kau sadar sesuatu,
nggak?” tanyanya sambil melahap
kue pesanannya.
“Sadar tentang apa?” tanyaku bingung. Apa dia
sudah tau tentang bayangan hitam itu?
“Sadar bahwa
sikapmu akhir-akhir ini sangat aneh.” Aku tersentak akan kalimat yang meluncur
indah dari mulutnya hingga membuatku tersedak oleh cappuccino yang sedang kuminum.
“Uhuk..uhuk.. K-kau ini bicara apa, sih? A-aneh apanya, coba? Aku
kan sudah bilang padamu bahwa ini karena tugas kuliahku saja.” Sanggahku dengan
berusaha menyembunyikan perasaan gugupku.
“Nggak mungkin. Aku nggak percaya. Lagipula
tugas apa yang harus dipikirkan sampai segitunya, coba? Kenapa kau ini? Kalau ada apa-apa kan bisa cerita padaku.”
Telisiknya terus menerus hingga aku merasa terpojokkan dan tidak bisa membalas
perkataannya.
“………….”
“Jadi, apa benar
bahwa kakakku ini sedang sibuk dan resah memikirkan seorang pria? Pria yang kau
nggak mau kalau aku mengetahuinya.” Penjelasan
panjang lebar dengan muka jahilnya.
“Apa? Kau ini
bicara apa, sih?” aku
benar-benar dibuat tersontak untuk yang kesekian kali oleh ucapannya. Dan
akhirnya aku tau bahwa inilah apa yang dia pikirkan tentang aku mengenai sikap
anehku.
“Lihatlah!
Wajahmu memerah! Hahaha…. Jadi aku ini memang benar, ya? Pria itu, siapa pria
beruntung itu?” dengan
wajah menggodanya yang rasanya ingin kulempar sepatu.
“Aduh, dek! Aku nggak lagi memikirkan hal yang
kau pikirkan. Lagipula, siapa yang wajahnya memerah, coba?” seketika mengambil
cermin kecil dari dalam tas dan
memperhatikan wajahku sendiri. Bian terus memandangiku dengan senyum jahilnya
yang membuatku sangat geli.
Akhirnya kami
bergegas untuk pulang karena hari sudah mulai gelap. Ya ini berarti sudah malam
lagi. Entah mengapa aku sangat yakin bahwa orang itu akan kembali lagi malam
ini. Sebenarnya aku takut jika orang itu datang ke kamarku lagi. Aku juga
sempat berniat untuk menumpang di kamar Bian.
Namun, aku juga tidak ingin dia terluka karena orang itu. Jadi, aku
memutuskan bahwa aku harus menangkap orang itu sendiri.
Ketika aku sedang
sibuk mempersiapkan diri
untuk menangkap orang itu, terdengar suara barang yang terjatuh dan pecah.
Dengan mengumpulkan keberanian yang kupunya, aku melangkahkan kaki menuju pintu
kamar dengan pemukul baseball
aluminium milik ayah
di tangan kananku. Kubuka pintu perlahan dan kucari keberadaan orang itu.
Ruangan demi ruangan kuperiksa.
Namun, tidak kutemukan
keberadaannya. Apa dia sudah pergi? Namun, aku tersadar ada satu ruangan yang
belum kuperiksa, yaitu kamar Bian.
“Bian…” Ucapku
lirih dan dengan panik aku langsung berlari menuju kamarnya tanpa tersadar aku
menjatuhkan pemukul baseball yang
merupakan satu-satunya senjataku.
Dengan cahaya
terbatas karena lampu kamar yang dimatikan, aku tidak dapat melihat apa pun.
Aku berusaha mencari tombol lampu agar aku dapat segera mengetahui keadaan
Bian. Saat aku menemukan tombol lampu dan hendak menyalakannya, aku merasakan
ada deru napas seseorang di belakangku. Jantungku berdegup semakin kencang dan
aku terpaku. Namun, aku tetap berusaha memberanikan diri. Aku menoleh perlahan dan
nampaklah sesosok orang yang berpakaian serba hitam menunduk dengan sebuah
pisau tajam yang tergenggam erat di tangan kanannya. Aku merasa sangat
ketakutan. Air mataku mulai mengalir deras melewati pipi. Namun, aku harus
berusaha menahan isakanku. Akhirnya
tangan kiriku yang masih melekat pada tombol lampu segera menekannya. Dan sebelum itu, aku
memukul kepalanya dengan
vas yang berada di atas meja kecil di belakangku.
Setelah lampu
menyala, aku tidak menemukan tanda adanya Bian disitu. Aku terus mengedarkan
pandanganku. Namun, tanpa kusadari orang itu mulai mengangkat kepalanya yang
tertunduk. Rupanya dia masih belum pingsan saat kupukul. Perlahan psikopat ini
menujukkan wajahnya.
“B..Bi..Bian?” aku terduduk lesu. Aku
sangat kaget dan terkejut. Bahkan dengan penampilan wajah yang seperti itu,
hampir saja aku tidak mengenalinya. Bian pun jatuh pingsan tepat dihadapanku
dengan darah yang mengalir deras dari kepalanya. Ada apa ini sebenarnya? Tanpa
pikir panjang aku langsung membawanya ke rumah sakit terdekat.
Aku sangat
khawatir dengan keadaannya. Tapi penampilan Bian yang berbeda itu apakah bukti
bahwa Bianlah orang misterius itu?
Jadi, apa dia yang membawaku sampai di meja makan? Tapi kenapa dia tidak
menyadarinya? Dia juga terlihat tidak berbohong. Akhirnya, selagi menunggu Bian
selesai diobati dan dijahit kepalanya, aku memutuskan untuk menemui psikiater
atau dokter jiwa untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Setelah itu aku
menceritakan semua hal aneh yang terjadi pada dokter.
"Jadi, Anda
adalah kakak dari Bian? Bian memanglah salah seorang pasien pengidap D.I.D (Dissociative Identity Disorder) atau sering disebut kepribadian
ganda didefinisikan sebagai kelainan mental di mana seseorang yang mengidapnya
akan menunjukkan adanya dua atau lebih kepribadian yang masing-masing memiliki
nama dan karakter yang berbeda."
"Apa maksud
dokter? Apa Bian juga pernah memeriksakan dirinya?" sontak aku memotong
penjelasan dari dokter.
"Dia datang
kesini dua minggu yang lalu dan
menanyakan hal yang sama. Dari situ dia mulai bercerita tentang hal yang
dialaminya. Dan melalui hasil pemeriksaan, kami dapat mengetahui dia adalah
seorang yang berkepribadian ganda.
Mereka yang memiliki kelainan seperti ini sebenarnya hanya memiliki satu
kepribadian. Namun, si penderita akan
merasa kalau ia memiliki banyak identitas bila mendapati cara berpikir,
temperamen, tata bahasa, ingatan, dan interaksi terhadap lingkungan yang
berbeda-beda." Jelas dokter panjang lebar.
Aku tidak kuasa
menahan air mataku yang terun bebas dengan derasnya. Aku tidak mengerti kenapa
ini bisa terjadi pada Bian.
"Tapi apa
yang menyebabkan Bian mengidap gangguan ini?" tanyaku panik.
"Pengidap D.I.D ini biasanya disebabkan karena
faktor traumatis yang berkepanjangan. Orang yang mengidap ini juga 98%
mengalami amnesia. Jadi, ketika kepribadiannya yang asli kembali, dia tidak
mengingat kejadian sebelumnya."
"Te.. te.. trauma?"
"Saudara
Bian masih belum bisa mengingat kejadian yang mungkin melukainya di masa lalu.
Dan satu hal lagi. Saya harap Anda bisa mengawasi dan menjaganya, karena banyak
pasien D.I.D yang berkeinginan untuk
bunuh diri."
Setelah mendengar semua penjelasan dokter, aku pergi
menuju kamar rawat Bian dengan perasaan yang kacau. Aku bertanya-tanya apa yang
membuatnya begitu tertekan. Padahal dia selalu tampak ceria. Aku memasuki ruang
dan duduk di kursi samping ranjangnya. Sesaat kemudian dia terlihat gelisah
dalam tidurnya, peluhpun terus mengaliri wajahnya.
“Dek? Dek? Bian bangun!” aku terus memanggil namanya
sembari menggoncang-goncangkan bahunya. Perlahan-lahan dia membuka mata dan
segera memelukku.
“Nggak apa-apa. Itu cuma mimpi.” Aku berusaha
menenangkannya dengan tangan kananku yang menepuk-nepuk punggungnya. Begitu
keadaan Bian mulai tenang, aku mencoba menatapnya. Sejujurnya, aku ingin
mengetahui apa yang dia mimpikan sampai dia merasa ketakutan yang luar biasa.
Namun, kuurungkan segera niatku untuk bertanya. Apa mungkin itu adalah
traumanya?
“Wanita muda itu terkapar di sudut kamar. Matanya nanar.
Seorang wanita tua dengan pisau di tangan kanan mencoba membunuhnya.” Bian
menahan tangan kananku saat aku hendak bangkit mengambil segelas air untuknya.
Dia bercerita seolah dapat mengerti yang kupikirkan tadi.
“Sedetik kemudian, dia berteriak dengan kencang
‘Iaannn!!’ tiba-tiba ia seperti memanggil sebuah nama. Melengking, keras.
Namun, hilang ditelan parau. Si wanita tua mendekatinya kemudian memukul kepala
wanita muda berkali-kali dengan keras menggunakan sebuah penggorengan.” Aku
masih diam menyimak ceritanya.
“Seorang pria tua datang dan menyelamatkan wanita muda.
Dia juga mengancam akan melaporkan si wanita tua ke polisi. Namun, dalam
sekejap mata, wanita tua itu menyayat lehernya sendiri menggunakan pisau yang
tadi dibawanya. Dia akhirnya meninggal karena bunuh diri. Sedangkan si wanita
muda koma selama satu bulan akibat benturan keras di kepalanya. Setelah dia
sadar, dia kehilangan sebagian ingatannya.” Bian tak kuasa menahan air mata
setelah menyelesaikan ceritanya. Namun, aku masih tidak mengerti apa maksudnya.
Aku mencoba membelai kepalanya, tetapi dia menahan tanganku untuk kedua
kalinya.
“Aku melihat semuanya, tragedi itu. Sekarang aku
mengingatnya dengan baik sampai rasanya mau mati! Wanita muda itu memanggil
namaku, nama masa kecilku, Ian. Menurutmu, siapa dia?” Bian menatap mataku
dengan tajam. Air mata terus membanjiri wajahnya. Rasanya sakit melihat duka di
matanya.
“Apa? Aku tidak tahu.” Jawabku lirih.
“Tentu saja kau tak mengingatnya. Hanya satu orang yang
memanggilku Ian saat kecil. Hanya kau.” Tatapan matanya sungguh menyayat
hatiku. Aku merasa sesak di dada.
“Maafkan aku. Aku tak bisa melindungimu dari ibu yang
sedang kambuh dari penyakit mentalnya. Aku hanya bisa menunggu sampai ayah
datang saat itu. Maaf. Karena kau harus hidup seperti ini.” Aku tak mengerti
mengapa tiba-tiba aku menangis. Aku memeluknya dengan erat. Tangisanku semakin
deras. Perlahan, kepalaku sangat sakit seperti di hantam palu raksasa. Semua
hal itu menyiksaku hingga akhirnya semua menjadi gelap.
Beberapa hari setelah kejadian itu, aku dan Bian keluar
dari rumah sakit. Aku dan dia mengingat kembali kejadian mengerikan itu. Namun,
kami tidak membenci ibu. Kejadian itu tidak sepenuhnya salah beliau. Beliau
bahkan melakukannya tanpa kesadaran penuh dan kendali diri.
Semua peristiwa ini membuat hubungan persaudaraan kami
semakin dekat. Kami berjanji untuk saling melindungi dan terbuka. Selain itu,
kami jadi lebih sering menghabiskan waktu bersama dan lebih sering mengunjungi
makam kedua orang tua kami.
mohon kritik dan saran di e-mail saya nur.hidayah.jca25@gmail.com