Kamis, 05 Januari 2017

Ujian Praktik Bahasa Indonesia - Menulis Cerpen



Tamu Tengah Malam

Namaku Riri Ralinta. Aku adalah mahasiswi Fakultas Hukum di Universitas Indonesia. Aku hanya tinggal berdua dengan adikku, Bian. Ini karena kedua orang tua kami yang sudah meninggal. Sekitar 1 bulan yang lalu kami pindah dan tinggal di rumah peninggalan orang tua kami. Belakangan ini rasa sakit, gelisah, dan ketakutan yang terjadi begitu mengguncang diriku. Semua bermula pada malam itu.
Malam itu, ya… malam yang sangat dingin dan gelap. Aku terbangun dari tidurku karena tenggorokanku yang terasa gersang. Akhirnya aku memutuskan bangkit dari ranjang untuk sekedar membasahi tenggorokanku. Dalam kondisi yang masih setengah sadar, aku berjalan malas menuju pintu kamar. Baru kubuka sedikit pintu itu dan bersiap melangkahkan kaki keluar, aku melihat sekilas ada sesosok bayangan hitam yang berlari dengan sangat cepat. Aku terkejut dan terpaku pada pijakanku, tetapi aku masih tidak yakin karena kondisiku yang belum 100% sadar.
Pagi harinya aku berangkat kuliah seperti biasa. Namun, aku tidak telalu fokus karena kejadian semalam.
“Ri, lagi pikirin apa? Kok kayaknya serius banget?” tanya seorang sahabatku, Tya yang tiba-tiba sudah duduk di sebelahku.
“Ah aku bukan apa-apa, kok. Memang kelihatan serius, ya?” jawabku pada Tya.
“Iya. Kau sedang ribut dengan adikmu? Ah.. tapi rasanya nggak mungkin. Kalian kan selalu lengket, sampai-sampai dikira orang pacaran.” Ujarnya dalam sekali napas.
“Aduh duh… mulutmu itu sekali bicara sudah seperti kereta, ya? Cepat banget ngomongnya. Belum dijawab saja, sudah jawab sendiri.” Kataku sambil mengetuk pelan mulutnya dengan pulpen. Sedang lawan bicaraku hanya tersenyum tanpa dosa.

Aku tidak ingin menceritakan kejadian semalam kepada siapapun. Karena aku merasa kejadian itu masih belum bisa dibenarkan. Semalam aku masih dalam kondisi mengantuk, jadi bisa saja itu adalah halusinasiku.
Pada pukul 17.00, aku beranjak untuk pulang dari kampus karena sudah tidak ada jadwal mata kuliahku. Rumah masih terkunci. Itu berarti Bian belum pulang. Kemana ya anak itu? Namun, aku merasa tubuhku sangat rindu dengan empuknya sofa di ruang tamu yang membuatku langsung merebahkan diri di atasnya.
Merenung dan menatap ke langit-langit ruangan adalah satu-satunya yang kulakukan saat ini. Aku benar-benar tidak ingin memusingkan kejadian itu lagi. Aku juga tidak ingin membicarakannya pada Bian. Tapi apakah orang itu akan datang kembali lagi malam ini? Walaupun enggan untuk memikirkannya, namun pertanyaan itu terus muncul dalam benakku.
“Kak? Tumben sudah pulang. Ada makanan, nggak? Laper, nih.” Bian pulang dan menyadari aku sudah berada di rumah. Dia berbicara padaku. Namun, aku masih senantiasa bergelut dengan pikiranku sendiri. Hingga akhirnya dia menghampiriku.
“Kak? Kak Riri! Kau ini kenapa, sih?” tanyanya khawatir sambil menggoyang-goyangkan bahuku. Dan akhirnya aku tersadar akan kehadirannya.
“Oh… Bian? Kau sudah pulang rupanya. Ada apa?” Tanyaku polos.
“Kau ini yang kenapa? Ditanya dari tadi kok diam saja. Jadi khawatir, tau nggak?” ungkapnya penuh dengan nada kekhawatiran.
“Aku nggak apa-apa. Cuma lagi pikirin tugas kuliahku saja.” Jelasku dengan sedikit kebohongan.
“Cihh… dasar! Baru juga semester satu, tugas sudah numpuk.” Cibirnya sambil mengacak rambutku.
“Kau! Aish.. rambutku jadi berantakan, tau! Aku nggak akan memberimu makan malam. Lihat saja!” ancamku pada Bian. Sedang yang diancam meledek seperti anak kecil dan langsung berlari masuk ke dalam kamar.

Malam kedua, malam ini aku masih tidak dapat tertidur. Padahal jam sudah menunjuk pukul 23.30. Saat itu aku tidak tau apa yang terjadi. Karena pada pagi harinya, aku menemukan diriku tertidur dalam posisi duduk di meja makan. Aku tersentak saat dibangunkan oleh Bian.
“Kak. Kok tidur di sini, sih? Kenapa nggak di kamar saja? Memangnya nggak dingin?” rombongan pertanyaan yang keluar dari mulut Bian yang sukses membuatku bingung hendak menjawab apa. Dan tanpa membuang waktu, aku yang masih dalam keadaan terkejut ini langsung melejit masuk ke dalam kamar meninggalkan Bian yang masih berada di ruang makan.Aku hanya membiarkan Bian menatap bingung punggungku yang terus saja melangkah dan masuk ke kamar.
Ini benar-benar aneh. Aku tidak mengerti kenapa aku bisa-bisanya tidur di meja makan. Padahal aku sama sekali tidak merasa bahwa aku terbangun dan berjalan keluar kamar. Orang itu! Apakah orang itu datang lagi dan masuk ke kamarku? Apakah dia yang membawaku ke ruang makan? Tapi bagaimana bisa aku tidak menyadari bahwa aku dipindahkan? Apa orang itu pencuri? Tapi tidak ada satupun yang dia curi. Apakah hantu? Ah mana mungkin ada hantu. Iya kan? Aku tidak percaya hal seperti itu. Apa jangan-jangan dia seorang psikopat? Ya ya ya, itu bisa saja dan itu mengerikan. Tapi jika benar psikopat, apa mau sebenarnya, sih? Membuat orang ketakutan saja. Jika aku terus-terusan memikirkan hal ini, pasti aku akan benar-benar gila.

Karena hari ini adalah hari libur, aku mengajak Bian untuk jalan-jalan. Aku tidak ingin membuatnya terus-terusan mecurigaiku karena sikap anehku tadi pagi.
Lelah menyusuri kota hampir setengah hari, kami memutuskan untuk beristirahat sambil menikmati minuman di cafe. Sembari menunggu pesanan kami datang, kami banyak berbincang dan akhirnya Bian menanyakan hal-hal yang sepertinya dia curigai dari sikapku.
“Aneh.” Katanya lirih, namun masih bisa tertangkap pendengaranku.
“Apa dek?” tanyaku menelisik.
“Ah.. aku senang saja. Setelah sekian lama kau sibuk dengan tugas kuliahmu, akhirnya kau bisa meluangkan diri untuk jalan-jalan denganku.” Jelasnya yang ku yakin bahwa itu bohong. Aku tidak tau apa yang sedang di pikirkannya. Tapi, aku yakin bukan itu jawabannya.
“Iya juga, ya? Memang sudah lama kita nggak jalan-jalan bareng.” Balasku singkat.
“Oh iya, kak. Kau sadar sesuatu, nggak?” tanyanya sambil melahap kue pesanannya.
“Sadar tentang apa?” tanyaku bingung. Apa dia sudah tau tentang bayangan hitam itu?
“Sadar bahwa sikapmu akhir-akhir ini sangat aneh.” Aku tersentak akan kalimat yang meluncur indah dari mulutnya hingga membuatku tersedak oleh cappuccino yang sedang kuminum.
“Uhuk..uhuk.. K-kau ini bicara apa, sih? A-aneh apanya, coba? Aku kan sudah bilang padamu bahwa ini karena tugas kuliahku saja.” Sanggahku dengan berusaha menyembunyikan perasaan gugupku.
Nggak mungkin. Aku nggak percaya. Lagipula tugas apa yang harus dipikirkan sampai segitunya, coba? Kenapa kau ini? Kalau ada apa-apa kan bisa cerita padaku.” Telisiknya terus menerus hingga aku merasa terpojokkan dan tidak bisa membalas perkataannya.
“………….”
“Jadi, apa benar bahwa kakakku ini sedang sibuk dan resah memikirkan seorang pria? Pria yang kau nggak mau kalau aku mengetahuinya.” Penjelasan panjang lebar dengan muka jahilnya.
“Apa? Kau ini bicara apa, sih?” aku benar-benar dibuat tersontak untuk yang kesekian kali oleh ucapannya. Dan akhirnya aku tau bahwa inilah apa yang dia pikirkan tentang aku mengenai sikap anehku.
“Lihatlah! Wajahmu memerah! Hahaha…. Jadi aku ini memang benar, ya? Pria itu, siapa pria beruntung itu?” dengan wajah menggodanya yang rasanya ingin kulempar sepatu.
“Aduh, dek! Aku nggak lagi memikirkan hal yang kau pikirkan. Lagipula, siapa yang wajahnya memerah, coba?” seketika mengambil cermin kecil dari dalam tas dan memperhatikan wajahku sendiri. Bian terus memandangiku dengan senyum jahilnya yang membuatku sangat geli.

Akhirnya kami bergegas untuk pulang karena hari sudah mulai gelap. Ya ini berarti sudah malam lagi. Entah mengapa aku sangat yakin bahwa orang itu akan kembali lagi malam ini. Sebenarnya aku takut jika orang itu datang ke kamarku lagi. Aku juga sempat berniat untuk menumpang di kamar Bian.  Namun, aku juga tidak ingin dia terluka karena orang itu. Jadi, aku memutuskan bahwa aku harus menangkap orang itu sendiri.
Ketika aku sedang sibuk mempersiapkan diri untuk menangkap orang itu, terdengar suara barang yang terjatuh dan pecah. Dengan mengumpulkan keberanian yang kupunya, aku melangkahkan kaki menuju pintu kamar dengan pemukul baseball aluminium milik ayah di tangan kananku. Kubuka pintu perlahan dan kucari keberadaan orang itu. Ruangan demi ruangan kuperiksa. Namun, tidak kutemukan keberadaannya. Apa dia sudah pergi? Namun, aku tersadar ada satu ruangan yang belum kuperiksa, yaitu kamar Bian.
“Bian…” Ucapku lirih dan dengan panik aku langsung berlari menuju kamarnya tanpa tersadar aku menjatuhkan pemukul baseball yang merupakan satu-satunya senjataku.
Dengan cahaya terbatas karena lampu kamar yang dimatikan, aku tidak dapat melihat apa pun. Aku berusaha mencari tombol lampu agar aku dapat segera mengetahui keadaan Bian. Saat aku menemukan tombol lampu dan hendak menyalakannya, aku merasakan ada deru napas seseorang di belakangku. Jantungku berdegup semakin kencang dan aku terpaku. Namun, aku tetap berusaha memberanikan diri. Aku menoleh perlahan dan nampaklah sesosok orang yang berpakaian serba hitam menunduk dengan sebuah pisau tajam yang tergenggam erat di tangan kanannya. Aku merasa sangat ketakutan. Air mataku mulai mengalir deras melewati pipi. Namun, aku harus berusaha menahan isakanku. Akhirnya tangan kiriku yang masih melekat pada tombol lampu segera menekannya. Dan sebelum itu, aku memukul kepalanya dengan vas yang berada di atas meja kecil di belakangku.
Setelah lampu menyala, aku tidak menemukan tanda adanya Bian disitu. Aku terus mengedarkan pandanganku. Namun, tanpa kusadari orang itu mulai mengangkat kepalanya yang tertunduk. Rupanya dia masih belum pingsan saat kupukul. Perlahan psikopat ini menujukkan wajahnya.
B..Bi..Bian?aku terduduk lesu. Aku sangat kaget dan terkejut. Bahkan dengan penampilan wajah yang seperti itu, hampir saja aku tidak mengenalinya. Bian pun jatuh pingsan tepat dihadapanku dengan darah yang mengalir deras dari kepalanya. Ada apa ini sebenarnya? Tanpa pikir panjang aku langsung membawanya ke rumah sakit terdekat.
Aku sangat khawatir dengan keadaannya. Tapi penampilan Bian yang berbeda itu apakah bukti bahwa Bianlah orang misterius itu? Jadi, apa dia yang membawaku sampai di meja makan? Tapi kenapa dia tidak menyadarinya? Dia juga terlihat tidak berbohong. Akhirnya, selagi menunggu Bian selesai diobati dan dijahit kepalanya, aku memutuskan untuk menemui psikiater atau dokter jiwa untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Setelah itu aku menceritakan semua hal aneh yang terjadi pada dokter.
"Jadi, Anda adalah kakak dari Bian? Bian memanglah salah seorang pasien pengidap D.I.D (Dissociative Identity Disorder) atau sering disebut kepribadian ganda didefinisikan sebagai kelainan mental di mana seseorang yang mengidapnya akan menunjukkan adanya dua atau lebih kepribadian yang masing-masing memiliki nama dan karakter yang berbeda."
"Apa maksud dokter? Apa Bian juga pernah memeriksakan dirinya?" sontak aku memotong penjelasan dari dokter.
"Dia datang kesini dua minggu yang lalu dan menanyakan hal yang sama. Dari situ dia mulai bercerita tentang hal yang dialaminya. Dan melalui hasil pemeriksaan, kami dapat mengetahui dia adalah seorang yang berkepribadian ganda. Mereka yang memiliki kelainan seperti ini sebenarnya hanya memiliki satu kepribadian. Namun, si penderita akan merasa kalau ia memiliki banyak identitas bila mendapati cara berpikir, temperamen, tata bahasa, ingatan, dan interaksi terhadap lingkungan yang berbeda-beda." Jelas dokter panjang lebar.
Aku tidak kuasa menahan air mataku yang terun bebas dengan derasnya. Aku tidak mengerti kenapa ini bisa terjadi pada Bian.
"Tapi apa yang menyebabkan Bian mengidap gangguan ini?" tanyaku panik.
"Pengidap D.I.D ini biasanya disebabkan karena faktor traumatis yang berkepanjangan. Orang yang mengidap ini juga 98% mengalami amnesia. Jadi, ketika kepribadiannya yang asli kembali, dia tidak mengingat kejadian sebelumnya."
"Te..  te.. trauma?"
"Saudara Bian masih belum bisa mengingat kejadian yang mungkin melukainya di masa lalu. Dan satu hal lagi. Saya harap Anda bisa mengawasi dan menjaganya, karena banyak pasien D.I.D yang berkeinginan untuk bunuh diri."
Setelah mendengar semua penjelasan dokter, aku pergi menuju kamar rawat Bian dengan perasaan yang kacau. Aku bertanya-tanya apa yang membuatnya begitu tertekan. Padahal dia selalu tampak ceria. Aku memasuki ruang dan duduk di kursi samping ranjangnya. Sesaat kemudian dia terlihat gelisah dalam tidurnya, peluhpun terus mengaliri wajahnya.
“Dek? Dek? Bian bangun!” aku terus memanggil namanya sembari menggoncang-goncangkan bahunya. Perlahan-lahan dia membuka mata dan segera memelukku.
“Nggak apa-apa. Itu cuma mimpi.” Aku berusaha menenangkannya dengan tangan kananku yang menepuk-nepuk punggungnya. Begitu keadaan Bian mulai tenang, aku mencoba menatapnya. Sejujurnya, aku ingin mengetahui apa yang dia mimpikan sampai dia merasa ketakutan yang luar biasa. Namun, kuurungkan segera niatku untuk bertanya. Apa mungkin itu adalah traumanya?
“Wanita muda itu terkapar di sudut kamar. Matanya nanar. Seorang wanita tua dengan pisau di tangan kanan mencoba membunuhnya.” Bian menahan tangan kananku saat aku hendak bangkit mengambil segelas air untuknya. Dia bercerita seolah dapat mengerti yang kupikirkan tadi.
“Sedetik kemudian, dia berteriak dengan kencang ‘Iaannn!!’ tiba-tiba ia seperti memanggil sebuah nama. Melengking, keras. Namun, hilang ditelan parau. Si wanita tua mendekatinya kemudian memukul kepala wanita muda berkali-kali dengan keras menggunakan sebuah penggorengan.” Aku masih diam menyimak ceritanya.
“Seorang pria tua datang dan menyelamatkan wanita muda. Dia juga mengancam akan melaporkan si wanita tua ke polisi. Namun, dalam sekejap mata, wanita tua itu menyayat lehernya sendiri menggunakan pisau yang tadi dibawanya. Dia akhirnya meninggal karena bunuh diri. Sedangkan si wanita muda koma selama satu bulan akibat benturan keras di kepalanya. Setelah dia sadar, dia kehilangan sebagian ingatannya.” Bian tak kuasa menahan air mata setelah menyelesaikan ceritanya. Namun, aku masih tidak mengerti apa maksudnya. Aku mencoba membelai kepalanya, tetapi dia menahan tanganku untuk kedua kalinya.
“Aku melihat semuanya, tragedi itu. Sekarang aku mengingatnya dengan baik sampai rasanya mau mati! Wanita muda itu memanggil namaku, nama masa kecilku, Ian. Menurutmu, siapa dia?” Bian menatap mataku dengan tajam. Air mata terus membanjiri wajahnya. Rasanya sakit melihat duka di matanya.
“Apa? Aku tidak tahu.” Jawabku lirih.
“Tentu saja kau tak mengingatnya. Hanya satu orang yang memanggilku Ian saat kecil. Hanya kau.” Tatapan matanya sungguh menyayat hatiku. Aku merasa sesak di dada.
“Maafkan aku. Aku tak bisa melindungimu dari ibu yang sedang kambuh dari penyakit mentalnya. Aku hanya bisa menunggu sampai ayah datang saat itu. Maaf. Karena kau harus hidup seperti ini.” Aku tak mengerti mengapa tiba-tiba aku menangis. Aku memeluknya dengan erat. Tangisanku semakin deras. Perlahan, kepalaku sangat sakit seperti di hantam palu raksasa. Semua hal itu menyiksaku hingga akhirnya semua menjadi gelap.
Beberapa hari setelah kejadian itu, aku dan Bian keluar dari rumah sakit. Aku dan dia mengingat kembali kejadian mengerikan itu. Namun, kami tidak membenci ibu. Kejadian itu tidak sepenuhnya salah beliau. Beliau bahkan melakukannya tanpa kesadaran penuh dan kendali diri.
Semua peristiwa ini membuat hubungan persaudaraan kami semakin dekat. Kami berjanji untuk saling melindungi dan terbuka. Selain itu, kami jadi lebih sering menghabiskan waktu bersama dan lebih sering mengunjungi makam kedua orang tua kami.


mohon kritik dan saran di e-mail saya nur.hidayah.jca25@gmail.com