Kamis, 03 November 2016

Teks Sejarah



Saroch,
Lelaki Pantang Menyerah

Saroch kecil lahir pada 17 Oktober 1955 di Desa Kajoran, Kabupaten Magelang. Ia merupakan anak ke-2 dari pasangan Nawidjoyo dan Suwarti. Saroch kecil hidup di keluarga menengah ke bawah. Hidup dengan bertani dan beternak, Saroch kecil hanya merupakan lulusan Sekolah Dasar (SD) karena kondisi ekonomi keluarga.
Saroch tinggal dan tumbuh di tanah kelahirannya. Sejak kecil, ia dan saudara-saudaranya rajin membantu orang tua. Ia dan saudara laki-laki membantu ayah di sawah, sedangkan saudarinya membantu ibu berjualan keliling. Mereka hidup dengan bahagia dan sederhana.
Saroch hanyalah tamatan Sekolah Dasar, namun keadaan memaksanya untuk bekerja keras. Saroch remaja memulainya dengan berjualan dan membuka warung sendiri. Kemudian, ia tertarik mengikuti kakaknya kursus menjahit. Saat kursus menjahit, ia sangat mudah dalam mempelajarinya, bahkan melampaui kemampuan sang kakak. Akhirnya, ia memutuskan untuk lebih focus dalam dunia menjahit.
Beberapa tahun setelah itu, saroch dewasa bertemu dengan seorang wanita cantik. Wanita ini bernama Asih Bayinah. Sekitar 2-3 tahun setelahnya, mereka memutuskan untuk menikah. Setelah menikah, mereka pindah ke dekat pusat Kota Magelang. Mereka membeli rumah dan menyewa sebuah warung untuk memulai usahanya. Bersama dengan sang istri, Saroch membuka tempat menjahit serta warung yang dikelola oleh istri.
Pada tahun 1980 (setahun setelah pernikahan), mereka dikaruniai seorang bayi laki-laki yang diberi nama Nur Rochmad. Dua tahun setelahnya, lahir bayi laki-laki kedua dari pasangan ini yang diberi nama Nur Cholis Setiadi. Kemudian pada tahun 1983 (bertepatan dengan gerhana matahari total), lahirlah seorang bayi perempuan bernama Nur Gerhanawati Budiningsih. Lima belas tahun kemudian, lahir Nur Hidayah, bayi perempuan yang lahir bertepatan pada saat Natal.
Pada tahun 2005, Saroch mulai sakit-sakitan. Pada akhir 2005, beliau menjalani rawat inap di rumah sakit karena diabetes. Setelah beberapa bulan menjalani rawat inap, keadaannya dipastikan membaik dan dapat menjalani rawat jalan. Pada awal tahun 2007, beliau kembali dirawat di rumah sakit akibat komplikasi jantung dan ginjal. Dinyatakan membaik, Saroch pun dirawat di rumah. Namun, pada 20 Juni 2007, Saroch meninggal dunia dengan meninggalkan seorang istri dan empat orang anak di usianya yang ke-51.


Teks Berita : Maganza Festival



Maganza Festival
 
Magelang, Sabtu, 22 Oktober 2016, SMA Negeri  2 Magelang mengadakan konser music bertajuk Maganza Festival (Magenta Extravaganza Festival) di Tribhakti Conventional Hall. Acara ini diselenggarakan dalam rangka memperingati HUT ke-37 SMAN 2 Magelang. Maganza Festival merupakan rancangan ke-4 dari peringatan ulang tahun SMAN 2 Magelang, setelah sebelumnya diadakan beberapa perlombaan, seperti Begarlist Volley Cup dan Begarlist Futsal Cup. Selain itu, pada Sabtu lalu telah diadakannya jalan santai serta lomba tumpeng.
Maganza Festival yang merupakan acara persembahan OSIS SMAN 2 Magelang ini dimulai pukul 18.30 WIB. Penonton disuguhi penampilan pembuka dari Zonjach yang merupakan pemain drum freestyle. Selanjutnya, penampilan dari Jupiter Shop dengan 4 buah lagu. Tidak hanya bernyanyi, mereka juga membagikan albumnya pada penonton. Sebelum menuju acara puncak, penonton disuguhi penampilan dari Lapiez Legiet yang membuat penonton bergoyang bersama. Pada pukul 20.45 WIB, tibalah acara puncak, penampilan Payung Teduh yang sangat memukau. Payung Teduh sendiri membawakan beberapa lagu hits dari albumnya. Maganza Festival berakhir pada pukul 22.45 WIB.
“Saya tidak menyangka! Acara ini sungguh di luar ekspektasi saya. Ini merupakan salah satu konser terbaik yang pernah digelar anak SMA di Magelang.” Ucap salah satu penonton.
Maganza Festival berjalan dengan lancar dan semua penataannya yang pas membuat suasana konser sangat meriah.